Kamis, 16 Juni 2016

Resensi Buku(Para Pencari Keadilan)


Pengarang: Pipiet Senja
Penerbit: Emir
Tahun terbit: 2015
Tebal: 221 halaman

Sinopsis

Rumondang Siregar adalah satu-satunya Jaksa di Indonesia blasteran Batak-Tionghoa. Sejak bayi ia dalam pengasuhan keluarga besar ayahnya di kawasan Tapanuli Selatan, sementara kedua orang tuanya mengejar karier di Ibukota. Acapkali ia menerima tindak kekerasan dari neneknya. Beruntunglah ia memiliki seorang kakek yang sangat mengasihinya, sehingga membentuk karakter yang mandiri, dan istiqomah sebagai muslimah tangguh.

Ketika ia berhasil menduduki jabatan Jaksa di daerah, segenap pikiran dan upayanya dipusatkan demi memberantas para koruptor. Sepak-terjangnya ternyata membuat gerah para seniornya, maka ia pun ditarik ke Ibukota. Di sini ternyata ia harus berhadapan dengan situasi yang tak pernah terbayangkan; mulai dari intrik, isu murahan, sampai fitnah yang keji. Serbuan dan tantangan lawan itu bukan saja dari kalangan sejawat, melainkan juga dari keluarga besar ibunya sendiri, etnis Tionghoa.

Bagaimana sepak-terjangnya, saat ia harus berhadapan dengan para sepupu dan pamannya sendiri yang ternyata adalah gembong narkoba? Dan ia pun menjadi korban dalam suatu tragedi pemboman di Mall. Dapatkah ia bangkit dari situasi in-coma yang mengenaskan itu?

Keunggulan Buku Novel karya penulis legendaris Indonesia ini, merupakan salah satu novel lintas etnis yang tidak biasa dari novel kebanyakan saat ini. Pipiet Senja seorang penulis yang dikenal sebagai sosok perempuan yang konsisten dengan kesederhanaan, baik dalam kehidupan maupun karya-karyanya. Dapat dilihat dari salah satu novel karyanya, Para Pencari keadilan. Novel ini menceritakan perjuangan seorang wanita tangguh di tengah maraknya kasus peradilan yang berakhir dengan tidak adil. Sangat menarik, karena di dalamnya penuh konflik yang mengharukan, serta sarat dengan nilai-nilai Islam yang tercermin dari tokoh utama seorang muslimah, bernama Rumondang. Tentu saja dapat menginspirasi tidak hanya bagi wanita, tetapi juga untuk semua orang yang sangat mendambakan keadilan di dunia ini.

Sumber
http://buku.enggar.net/
Share:

Resensi Buku (Show Your Work)


Judul: Show Your Work
Penulis: Austin Kleon
Penerjemah: Rini NB
Penerbit: Noura Books
Tahun terbit: 2014
Tebal: 215 halaman

Ingin diperhatikan? Atau ingin dipromosikan? Kleon punya nasihat yang bagus untuk ini, jangan sibuk membicarakan promosi diri. Sebaliknya, “Berkaryalah sebagus mungkin supaya tidak diabaikan.”

“Bila kamu berfokus pada kualitas, orang akan datang kepadamu.” Bagaimana caranya agar mereka menemukanmu? Berbagi lah.

Buku ini untuk kamu yang tidak suka mempromosikan diri. Austin memberikan alternatif cara promosi yang lebih baik dan bermanfaat bagi banyak orang.

Berbagi adalah kunci untuk memperkenalkan karyamu kepada banyak orang. Dengan demikian kamu pun mudah ditemukan dan berfokus menjadi ahli di bidangmu.

Alih-alih pelit dengan ilmu yang kamu miliki, bermurah hati membagi ide dan pengetahuan akan membukakan jalan kepada peluang dan kesempatan yang bahkan tidak kamu bayangkan. Berbagilah proses kreatifmu dengan banyak orang. Yang kamu perlukan hanyamenunjukkan karyamu.

Nah, ingin tahu cara alternatif promosi dari mr. Austin? Mari kita simak beberapa tips Beliau di bawah ini.

1. Tidak perlu menjadi genius? He? Serius? Iya, ini era digital, bukan? Dengan internet maka siapapun saling terhubung. Blog, media sosial, grup e-mail, ruang diskusi, forum, semuanya menjadi tempat virtual yang bisa didatangi orang untuk membicarakan hal-hal yang mereka anggap penting. Di dunia maya, semua orang mampu menyumbangkan sesuatu tanpa mengenal status, kekayaan, atau pun gelar. “Berikan yang kamu punya. Bagi seseorang, bisa jadi itu berguna baginya melebihi dugaanmu.” – Henry Wadsworth (halaman 9, Show Your Work).

Untuk berani berbagi, kamu harus berani menjadi amatir. Seorang amatir bersedia mencoba apa saja dan berbagi hasilnya. Seorang amatir tahu bahwa menyumbangkan sesuatu lebih baik daripada tidak sama sekali. Yang membedakan adalah berkarya atau tidak berkarya. Kalaupun hasil karyamu belum termasuk bagus, selalu ada kesempatan untuk berlatih. Menjadi amatir adalah menjadi pembelajar seumur hidup. Dan itu menyenangkan, menurut saya selain menjadi amatir, kamu harus menemukan dan menggunakan suaramu sendiri. Maksudnya? Bicarakan hal yang kamu suka dan suaramu akan datang sendiri. Jika ingin karyamu dianggap ada maka kamu harus berbagi. Internet memberi kamu banyak kesempatan untuk menemukan dan menggunakan suaramu. Berikutnya, baca obituarium. Kata Kleon, membaca tentang orang-orang yang sudah tiada dan berbuat banyak dalam hidup akan membuat kita bangkit dan mengukir hidup sendiri dengan baik. Ambil inspirasi dari orang-orang yang berjuang dalam hidup-mereka semua mulai sebagai amatir, mencapai tujuan dengan mengolah apa yang dimiliki, lalu memberanikan diri menunjukkannya pada dunia. Teladani mereka. (halaman 25)

2. Pikirkan proses bukan hasil. Kebanyakan kita sudah memahami bahwa proses lebih bernilai dibandingkan hasil. Dengan berbagi poses harian maka kita pun menjalin keakraban dengan penikmat karya kita. Berbagi proses sebuah karya membuka kemungkinan bagi orang-orang untuk terus terhubung dengan kita dan karya kita sehingga membantu promosi produk lebih jauh. (hal 38). Selanjutnya, arsipkan semua yang telah kamu kerjakan. Potongan arsip adalah juga bagian proses kreatif yang dapat kamu kumpulkan untuk kemudian kamu tunjukkan.

3. Berbagilah hal kecil setiap hari.
Nah, di atas itu 3 tips dari Kleon. Masih banyak tips lainnya yang menarik dari Beliau, kamu bisa membaca bukunya untuk mengetahui nasihat lainnya dari Kleon.

Jadi, sesibuk apapun dirimu, jangan mengunci diri dan menimbun karya untuk diri sendiri. Berbagilah, tunjukkan karyamu kepada orang lain. Perhatikanlah, akan ada orang-orang yang memberi perhatian lebih kepada karyamu.

Dan mengutip pesan Kleon, “Dokumentasikan perkembanganmu, lalu bagikan prosesnya supaya orang lain bisa belajar bersamamu. Tunjukkan karyamu, dan ketika orang yang tepat muncul, amati mereka baik-baik, karena banyak yang akan mereka perlihatkan kepadamu.”

Sumber
http://buku.enggar.net/
Share:

Resensi Buku (The Innovators)


Judul: The Innovators
Penulis: Walter Isaacson
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2015
Tebal: 450 halaman
Internet awalnya dibuat untuk memfasilitasi kolaborasi (kerja tim) sementara PC terutama yang ditujukan untuk penggunaan di rumah dirancang guna mengakomodasi kreativitas individual. Perkembangan kemajuan di bidang jaringan komputer dan PC baru bersinggungan pada akhir 80-an, berkat munculnya modem, penyedia jasa internet dan World Wide Web. Perkawinan antara komputer dan jaringan terdistribusi Internet mencetuskan Revolusi Digital, sehingga siapapun kini dapat menciptakan, menyebarluaskan, dan mengakses informasi darimana saja.

Perkembangan digital saat ini telah memungkinkan orang biasa untuk lebih mudah menciptakan dan berbagi konten.

Nah, siapa sajakah para inovator yang telah menghantarkan kita kepada era digital yang nyaman ini?
Berawal dari ambisi Babbage untuk menciptakan mesin yang dapat menjalankan beragam operasi berdasarkan instruksi pemrograman, dimana alat itu dapat mengerjakan satu tugas lalu beralih mengerjakan tugas lainnya. Meminjam istilah Babbage, mesin yang dapat mengubah ‘pola kegiatannya’. Keinginan Babbage untuk membuat mesin yang ia beri nama dengan mesin analitis ini didorong oleh minat masa kecilnya pada mesin-mesin yang bisa merampungkan pekerjaan manusia.
Ide Babbage untuk mesin analitis impiannya itu terlalu maju untuk zamannya, sehingga ia tidak berhasil menarik perhatian media massa atau pun jurnal ilmiah saat itu. Namun demikian seorang wanita penyuka matematika dan teknologi, Ada Lovelace memercayai mesin impian Babbage. Ia satu-satunya orang yang bisa melihat keindahan dan kegunaan yang menakjubkan dari mesin tersebut.

Bagi Ada, mesin tersebut tidak hanya mampu untuk menghitung angka dan menjalankan operasi matematika (seperti keinginan Babbage) namun juga berpotensi untuk memproses notasi simbol apapun, termasuk notasi musik dan artistik.

Terinspirasi penggunaan aljabar dalam logika formal yang diajarkan oleh tutornya de Morgan, Ada menegaskan bahwa pada prinsipnya Mesin Analitis bisa menyimpan, memanipulasi, memproses dan menindaklanjuti apapun yang dapat diekspresikan sebagai simbol, entah itu kata, logika, musik, ataupun yang lain-lain.

Pemahaman di atas merupakan konsep inti yang menggerakkan abad digital: konten, data, atau informasi apa saja-musik, teks, gambar, bilangan, simbol, suara, video-dapat dieskpresikan dalam format digital dan dimanipulasi oleh mesin.

Ide kartu berlubang yang ada di mesin tenun jacquard dan dipinjam oleh Babbage untuk mesin analitis rekaannya itu nantinya disempurnakan oleh Herman Hollerith sehingga pas untuk dimanfaatkan dalam komputer.

Mesin Hollerith dan Babbage berkarakter digital. Gagasan mesin analog kemudian muncul oleh karya kakak beradik Lord Kelvin dan James Thomson pada tahun 1870-an. Alat ini mampu melakukan perhitungan kalkulus namun gagal memecahkan persamaan dengan banyak variabel. Kesulitan ini akhirnya terjawab pada 1931 oleh Profesor Teknik dari MIT, Vannevar Bush. Beliau berhasil membuat komputer analog elektromekanis pertama di dunia. Mesin itu diberi nama Differential Analyzer. Mesin ini nantinya bayak digunakan untuk mendidik dan mengilhami para pionir komputer generasi selanjutnya. Namun demikian mesin ini tidak mengambil peran penting dalam sejarah komputer karena karakter analognya. Sebaliknya, Differential Analyzer menjadi cikal bakal berakhirnya mesin analog.

Namun demikian, berbagai pendekatan, teknologi, dan teori anyar bermunculan pada tahun 1937, tepat seratus tahun Babbage kali pertama menerbitkan makalahnya mengenai mesin analitis. Lompatan matematika terjadi pada tahun ini yang salah satunya menghasilkan konsep formal mengenai komputer universal. Dan konsep ini digagas oleh matematikawan brilian asal Inggris, Alan Turing yang terkenal dengan mesin Komputasi Logis atau mesin Turing.

Disusul oleh berbagai penemuan dan tokoh pelopor komputer lainnya, Claude Shannon penemu teori informasi sampai Bill Gates, Steve Jobs yang tak asing lagi dan diakhiri oleh komputer buatan IBM, Watson yang memenangi kuis jeopardy di tahun 2011.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tentu tidak berhenti sampai di sini, akan lahir banyak para penerus yang melanjutkan mimpi-mimpi dari para generasi sebelumnya. 

Ulasan
Buku ini berkisah tentang kemajuan serempak internet dan PC. Merunut keterkaitan antara perkembangan internet dan komputer. Inilah kisah mengenai para inovator era digital, mereka yang telah berjasa melahirkan revolusi digital.

Ada sebuah kesamaan yang dimiliki para pelopor komputer itu, yaitu mencari cara agar perhitungan matematika (yang itu-itu saja) dapat dikerjakan secara lebih praktis dan cepat.

Kolaborasi antargenerasi ini lah yang melahirkan era digital. Ide yang diwariskan dari satu jajaran inovator ke jajaran berikutnya melahirkan revolusi digital yang luar biasa menakjubkan.

Bekerjasama, kolaborasi adalah nilai-nilai keterampilan hidup yang harus dilatih dan dikembangkan. Kisah salah satu tokoh yaitu John Atanasof membuktikan bahwa amat sukar untuk menjadi penemu yang bekerja sendiri. Kesendirian Atanasof menjadi titik kelemahnnya, karena di sekelilingnya tidak ada orang yang mampu memberikan masukan atau membantu memecahkan tantangan teoretis ataupun teknis.

Yang perlu diingat, kreativitas adalah proses kolaboratif. Kreativitas tidak muncul sendiri. Maka seorang inovator yang baik adalah mereka yang memahami alur perubahan teknologi dan meneruskan tongkat perjuangan inovator terdahulu.

Sumber
http://buku.enggar.net/
Share:

Resensi Buku (Bakat Bukan Takdir)


Judul: Bakat Bukan Takdir
Penulis: Bukik Setiawan & Andrie Firdaus
Penerbit: Buah Hati
Tahun terbit: 2016
Tebal: 250 halaman

Membaca tulisan di awal buku Pak Bukik ini mengingatkan saya kepada pertanyaan serupa yang pernah saya tanyakan kepada Ibu, apa perlunya saya belajar banyak hal? Jawaban Ibu saya sederhana saja, nggak pp kamu belajar banyak (pengetahuan), karena kamu akan menemukan kesukaanmu (minat). Dan dari sana kamu bisa mengembangkan potensi yang kamu miliki.

Saya kira Ibu saya benar :). Dan serupa dengan yang dituliskan Pak Bukik, ketika seorang anak bertanya apa perlunya mereka belajar banyak hal, pada titik itu lah peran orangtua menjadi sangat penting. Karena orangtualah yang dapat membantu anak merajut semua pengetahuan menjadi kearifan yang mengarah pada tujuan hidup anak. Karena orangtualah yang dapat memfasilitasi anak untuk menerapkan pengetahuan menjadi keterampilan dan kebiasaan hidup. (halaman 6).

Lalu, bagaimana cara orang tua atau pendidik mengarahkan putra-putri mereka untuk kelak dapat meniti karir sesuai minat dan bakat mereka? Nah, buku ini tidak sekedar berteori namun juga memberikan latihan praktis bagi orang tua untuk menyiapkan anak-anak mereka berkarier cemerlang di zaman kreatif.

Zaman kreatif? Yup, itu lah zaman yang akan dihadapi anak-anak kita. Zaman dimana teknologi berkembang pesat, semakin terbatasnya sumber daya namun semakin beragamnya pilihan. Jika zaman orang tua mereka profesi yang mungkin diminati adalah menjadi dokter, guru, atau pilot. Nah, di zaman kreatif akan muncul berbagai pilihan karir baru yang memberi peluang kepada bakat dan minat seorang anak. Semisal anak yang berbakat di bidang seni, dengan segala kemajuan teknologi maka potensi yang ia miliki mempunyai banyak wadah untuk ditumbuhkembangkan. Menukil kalimat di sampul belakang buku, “Kemampuan anak untuk berkreasi sesuai bakatnya akan semakin menentukan perannya di zaman kreatif".

Apa sih bakat itu? Bukankah bakat adalah takdir? Kalau takdirnya nggak bisa nulis ya nggak bisa jadi penulis, begitu?  Nah, kalau Anda memiliki anggapan seperti itu, buku ini layak dibaca.

Buku Bakat Bukan Takdir menolak anggapan klasik yang menyatakan bahwa bakat adalah bawaan lahir. Bahwa bakat adalah takdir.

Bakat bukanlah potensi melainkan suatu tindakan nyata. Bakat bukan sekadar sesuatu yang dibawa sejak lahir, tapi pengembangan potensi anak hingga menjadi tindakan nyata atau suatu karya yang bermanfaat.

Kecerdasan aksara adalah potensi. Menulis buku adalah bakat. Menulis skenario film adalah bakat.
Kecerdasan sosial adalah potensi. Menjual barang adalah bakat. Meyakinkan orang adalah bakat. (halaman 21)

Jadi, bakat adalah hasil belajar yang berkelanjutan pada suatu bidang tertentu. Tanpa proses belajar, bakat tidak akan berkembang.

Hm, menarik, bukan? Saya sangat setuju sekali dengan kesimpulan di atas. Kenapa? Hehe, karena itu terjadi pada diri saya. Tanpa bimbingan dan kepercayaan orang tua terhadap saya, barangkali impian saya menerbitkan buku hanya sekedar di awang-awang.

Oke, kembali ke topik semula. Apa itu kecerdasan aksara, kecerdasan sosial? Apa ada kecerdasan lainnya? Tentu, jangan khawatir, masih banyak. Dan setiap orang, percaya atau tidak, bisa memiliki banyak bakat loh, nggak hanya satu seperti yang diyakini orang selama ini. Seperti yang telah dipaparkan di atas, bakat adalah hasil belajar, maka pada dasarnya setiap orang bisa punya lebih dari satu bakat, tergantung kesesuaian potensi diri dan kesempatan di masyarakat.

Adalah seorang tokoh pendidikan bernama Howard Gardner, pencetus pemikiran mengenai kecerdasan majemuk. Kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu produk yang bernilai dalam suatu budaya. Gardner membagi kecerdasan menjadi delapan bagian, yaitu: kecerdasan aksara (Bahasa), kecerdasan logika (Matematika), kecerdasan musik (Musikal), kecerdasan kinestetik (tubuh), kecerdasan alam (Naturalis), kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan interpesonal dan kecerdasan intrapersonal. Atau dalam buku ini masing-masing kecerdasan di atas diberikan penamaan sebagai berikut: Katanya (kecerdasan aksara), Anka (kecerdasan logika), Rada (kecerdasan musik), Geradi (kecerdasan kinestetik), Alata (kecerdasan alam), Akso (kecerdasan relasi atau interpersonal), Sivisi (kecerdasan visual dan spasial) serta Krevi (kecerdasan diri atau intrapersonal).

Gardner menyatakan bahwa setiap anak memiliki semua komponen kecerdasan. Yang mana yang dominan barangkali kembali kepada pemahaman di atas bahwa sekali lagi, bakat adalah proses belajar berkelanjutan.

Lalu, bagaimana menumbuhkan potensi ini? Sejak dahulu kita percaya bahwa pendidikan menanamkan adalah solusi terbaik untuk mencetak anak-anak yang cemerlang. Eh, begitu? 

Pendidikan menanamkan bahkan dikritik oleh Bapak Pendidikan kita, KI Hajar Dewantara. Menurut Beliau, agar anak-anak dapat menghadapi tantangan di masa depan maka sebaiknya pendidikan menanamkan ditinggalkan dan beralih lah kepada pendidikan menumbuhkan.

Loh, apa itu pendidikan menanamkan dan apa pula menumbuhkan? Bagi pendidikan menanamkan, anak diibaratkan kertas kosong. Maka orang dewasa merasa berhak memberi lukisan di atas kertas kosong tersebut. Anak menjadi objek dan orang dewasa sebagai subjek. Berbeda dengan pendidikan menumbuhkan. Pendidikan menumbuhkan percaya bahwa anak bukanlah kertas kosong. Mereka memiliki pikirannya sendiri. Anak pun dapat bertanggungjawab terhadap dirinya. Bagaimana? Pertanyaan yang bagus nih.. hehe, karena sebaiknya Anda membaca dan menuntaskan buku ini serta mengikuti berbagai latihan yang diberikan di dalam buku. Ada juga latihan yang bisa dikerjakan bersama putra-putri Anda.

Siap untuk menjadi pendidik yang menumbuhkan? Pasti bisa. Zaman berubah maka bekali agar anak kita tidak hanya sekadar bisa memperoleh pekerjaan dan penghasilan tetapi juga bisa merasakan kepuasan dari gaya hidup sebuah profesi yang elegan. Profesi yang mereka cintai sehingga bisa memberikan kebermanfaatan bagi diri dan sesama. Tidak hanya karir yang cemerlang tetapi yang terpenting bekali mereka agar menjadi manusia yang mandiri dan mampu menghadapi perubahan zaman.

Sumber
http://buku.enggar.net/
Share:

Resensi Buku (All Things Bright and Beautiful)


Judul: All Things Bright and Beautiful
Penulis: James Herriot
Alih bahasa: Lanny Murtihardjana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2014
Tebal: 640 halaman

“Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. Belum pernah kata-kata itu terasa begitu berarti. Tiba-tiba saja aku melihat diriku sebagai bagian sangat kecil dalam rencana-Nya yang Agung.” (halaman 287)

Tulisan-tulisan Herriot selalu memikat hati. Sarat dengan kehalusan budi, kebajikan berlimpah, dedikasi terhadap profesi yang dijalaninya dengan penuh tanggungjawab dan perikemanusiaan.

Buku All Things Bright and Beautiful adalah buku lanjutan dari kisah hidup James Herriot, seorang dokter hewan dalam buku All Creatures Great and Small. Herriot, yang baru menikah mulai memantapkan karirnya sebagai dokter hewan di daerah pertanian Yorkshire. Sebagai dokter hewan, maka Herriot harus selalu siap setiap waktu, bahkan di saat cuaca tidak ramah sekalipun. Penduduk Yorkshire yang semula meragukan kemampuannya sebagai dokter hewan muda perlahan mulai memercayainya.

James Herriot menuliskan kisahnya dengan penuh kehangatan, humor, dan kecintaan terhadap pasien-pasiennya serta para pemilik mereka.

Kalau ditanya cerita apa yang paling bagus? Maka saya tak akan ragu menjawabnya, semua. Hehe. Tetapi saya ingin mengulas beberapa diantaranya, secara acak saja ya.

Kisah Herbert si anak domba memberikan pengetahun baru untuk saya bahwa induk domba yang hamil dalam kondisi stres dan kehilangan anaknya akan mudah sekali menyerah untuk bertahan hidup. Setelah berhasil mengeluarkan anak domba yang sudah mati dari dalam perut induknya, Herriot membutuhkan anak domba cadangan. Saat itu Herriot teringat Herbert, anak domba berumur 2 minggu yang ditolak oleh induknya. Anak domba pemberani itu menyelinap di domba betina lain yang sedang menyusui anak-anaknya untuk ikut menyusu. Seringkali domba-domba betina menolaknya. Namun adakalanya Herbert berhasil menyusu. Untuk menyelamatkan nyawa domba betina yang nyaris mati itu, Herriot menjadikan Herbert sebagai anak domba cadangan. Herbert dibungkus dengan kulit anak domba yang sudah mati. Solusi ini ternyata membuahkan hasil. Keduanya memang saling membutuhkan.

Di bab lain ada cerita tentang Mr. Crump, seorang petani yang awalnya dinilai Herriot sebagai pribadi yang kikuk, membosankan dan tak berperasaan. Namun semuanya berubah ketika Herriot menerima tawaran Mr. Crump untuk mencoba anggur-anggur buatannya. Keluarga Mr. Crump sendiri sering dibuat kesal oleh tingkah Mr. Crump yang selalu menawarkan tamu-tamu mereka untuk mencicipi anggur bikinan Mr. Crump. Bahkan di dalam keluarganya pun Mr. Crump dianggap aneh. Kesediaan Herriot disambut sukacita oleh Mr. Crump. Setiap kali anggur aneka rasa itu disediakan oleh Mr. Crump, Herriot menanggapi dengan komentar tulus yang membuat wajah Mr. Crump berbinar memancarkan persahabatan. Herriot melihat Mr. Crump berubah menjadi orang yang ramah dan penuh pengertian. Walaupun dampaknya tidak begitu baik karena Herriot masih harus melakukan satu tugas lagi yaitu membantu kelahiran sapi di keluarga petani lain dalam pengaruh alkohol.

Hamparan rumput luas di daerah perbukitan hijau Yorkshire adalah godaan yang tak tertahankan bagi Herriot. Berbaring sendirian hanya ditemani bisikan angin yang berembus dan mendengar kicau burung adalah cara untuk menghindar dari hiruk-pikuk kehidupan.

Pengobatan tak sengaja pada domba betina yang sedang sekarat kelak membantu Herriot untuk menangani kasus serupa yang terjadi pada hewan kecil, Penny, anjing milik keluarga Flaxton. Domba betina yang megap-megap dan dibiarkan menunggu kematian oleh pemiliknya sendiri itu mampu bertahan hidup setelah Herriot, tanpa sepengetahuan si pemilik memberikan obat bius untuk mengurangi sakit sehingga si domba akan mati dengan tenang. Namun pada kunjungan berikutnya ternyata domba betina itu sehat. Dan si pemilik menceritakan bahwa selama 2 hari sang domba tertidur lelap dan hari berikutnya domba sudah berdiri dan mampu makan dengan lahap. Herriot melakukan pengobatan anestesi pada kasus Penny yang mengalami kasus peradangan akut pencernaan anjing. Pembiusan dilakukan salah satunya sebagai tambahan bagi penanganan normal. Cara ini mampu menghentikan lingkaran meletihkan dan mematikan serta menghilangkan rasa sakit dan ketakutan yang menyertainya. Namun demikian bukan berarti Herriot menganjurkan penggunaan anestesi bagi semua penyakit hewan.

Ada banyak kisah bagus, dan mengharu biru. Membaca karya Herriot tak cukup hanya dengan membaca review-nya, Anda harus membaca bukunya untuk meresapi setiap kebaikan yang memancar dari sosok sederhana dokter hewan ini.

“Adegan yang belangsung di hadapanku amat berbeda dengan pekerjaan rutinku yang sarat tendangan, serudukan, kotoran, dan peluh. Tapi aku sama sekali tidak meyesal. Kehidupan yang terpaksa kujalani karena keadaan, ternyata justru sangat memuaskan dan luar biasa. Aku begitu yakin lebih suka menjalani hari-hariku dengan berkendara melintasi jalan-jalan pedesaan tanpa pagar daripada membungkuk di atas meja operasi itu. Lagipula, aku tak kan bisa menjadi seorang Bennet. Rasanya aku takkan sanggup menyamai tekniknya, dan seluruh penataan ini sangat terkesan seperti bisnis, tinjauan ke masa depan, dan ambisi tinggi yang tidak kumiliki.” (halaman 237).

Di atas adalah nukilan dari kisah ketika Herriot membawa seekor anjing untuk dibedah oleh seorang pakar hewan. Dan ketika ia memperhatikan Mr. Bennet mengoperasi anjing kecil bernama Dinah, ingatan Herriot kembali kepada cita-cita awalnya sebagai dokter hewan.

Tulisan-tulisan Herriot selalu membuat saya merenung dan mensyukuri segala anugerah yang telah Tuhan berikan kepada saya. Kebaikan hatinya menular dan memberikan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Saya sangat bersyukur mengenal karya Beliau. Jaman boleh saja berubah tapi semustinya kehalusan budi senantiasa hidup dalam diri manusia.

Sumber 
http://buku.enggar.net/
Share:

Resensi Buku (Night Flight)


Judul: Night Flight
Penulis: Antoine de Saint-Exupery
Alih bahasa: Isao Arief
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Tahun terbit: 2010
Tebal: 190

Buku Night Flight ini berbentuk grafis (komik). Kisah dalam buku ini lebih merupakan memoar pengalaman Exupery sendiri sebagai pilot pos udara dan tragedi yang nyaris merenggut nyawanya.

Night Flight bercerita tentang perusahaan angkutan pos udara pertama yang melayani rute Amerika Selatan. Pada masa itu pengangkutan dan transportasi didominasi oleh kereta api dan kapal untuk jalur darat dan laut. Riviere adalah nama pemilik perusahaan armada pos udara ini. Ia melihat pasar yang cukup potensial untuk melakukan pengangkutan pada malam hari dengan mengggunakan pesawat untuk mempersingkat waktu.

Riviere memimpin dengan sangat keras. Para pilot mengemudikan pesawat dengan mengandalkan baling-baling pesawat, tongkat kendali penentu arah, sinar bulan dan bintang-bintang. Pesawat pada masa itu belum dilengkapi dengan radar dan peralatan digital seperti saat ini. Pekerjaan ini sepenuhnya mengandalkan kemampuan seorang pilot dengan keberanian tinggi.

Dikisahkan seorang pilot pemberani bernama Fabien yang baru menikah dan harus bertugas mengantarkan paket dengan rute Patagonia, Buenos Aires. Cuaca yang semula cerah berubah menjadi badai. Fabien pilot yang terlatih dan tidak mudah menyerah. Setelah ia berhasil melewati badai angin Fabien dan rekannya terpaksa harus menerima kenyataan bahwa bahan bakar mereka tidak mencukupi. Sementara pesawat mereka tersesat terbawa angin sampai lautan atlantik.

Fabien adalah bagian dari sebuah kisah mengenai kebanggaan dan keberanian orang-orang yang bekerja di udara. Pengorbanan Fabien dan para pilot pemberani lainnya tidak pernah sia-sia karena pengabdian mereka melebihi cinta dan kematian.


SUMBER

http://buku.enggar.net/ 

Share:

Minggu, 05 Juni 2016

Resensi Buku (Langkah Mudah Membangun Jaringan Komputer)


Judul               :  Langkah Mudah Membangun Jaringan Komputer
Penulis            :  Zainal Arifin
Penerbit          :  Andi
Tahun Terbit    :  2008

Dalam dunia Informatika jaringan komputer pasti sangat dibutuhkan baik disekolah, perkuliahan, perkantoran, ataupun ditempat-tempat yang menyediakan layanan jaringan free hotspot. Dimana dengan adanya jaringan komputer proses pengiriman dan penerimaan data dapat dengan mudah disampaikan oleh pihak yang dituju.

Buku ini membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan jaringan komputer, khususnya jaringan LAN (Local Area Network). Buku Langkah Mudah Membangun Jaringan Komputer diharapkan dapat membantu para mahasiswa, network engineer, administrator jaringan dan orang-orang yang berminat mendalami masalah jaringan komputer. Buku ini tidak saja bersifat konseptual tetapi juga bersifat praktikal sehingga dapat mudah dipahami dan dapat dijadikan panduan dalam merencanakan, mengelola dan mengembangkan sistem jaringan komputer.

Adapun hal-hal yang akan dibahas dalam buku ini adalah :
·         Konsep Jaringan Komputer
·         Model Referensi OSI (Open Sistems Interconnection)
·         Teknologi Jaringan LAN
·         Media Penghubung dan Interface Jaringan
·         Komponen-komponen Jaringan
·         Sistem Pengalamatan Jaringan Komputer
·         Membangun Jaringan Workgroup Menggunakan Sistem Operasi Windows 95/98
·         Membangun Jaringan Client-Server Menggunakan Windows 2000
·         Sistem Backup & Fault Tolerance
·         Sistem Penamaan dan Pengalamatan Jaringan Komputer

Share:

Awanto Rismawan

Total Tayangan Halaman

Diberdayakan oleh Blogger.